POLDA KALSEL GELAR RAKOR KARHUTLA, PERKENALKAN INOVASI CAIRAN PEMADAM DAN KOLAM PORTABLE

Terkini 03 Sep 2026 19:05 • 3 min read • 93 views • By Erick

Share berita ini

POLDA KALSEL GELAR RAKOR KARHUTLA, PERKENALKAN INOVASI CAIRAN PEMADAM DAN KOLAM PORTABLE
Rapat koordinasi Polda Kalsel beserta forkopimda untuk penanggulangan karhutla, dengan percobaan cairan bahan dari Labfor

Banajrbaru, Darahjuang.online — Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) menggelar rapat koordinasi (Rakor) penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Kamis (3/9/2026), di Rupatama Polda Kalsel, Banjarbaru.


Rakor tersebut melibatkan unsur Forkopimda, TNI, BPBD, instansi terkait, serta perwakilan relawan. Pertemuan digelar sebagai langkah memperkuat sinergi penanganan Karhutla yang hingga kini masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.


Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Nur Khamid, S.H., S.I.K., M.M., mengatakan, dalam arahannya Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., menekankan pentingnya inovasi dalam menghadapi karakteristik kebakaran di lahan gambut.


“Selama satu bulan penuh, personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, instansi terkait dan relawan sudah bekerja keras melakukan pemadaman. Namun, kondisi lahan gambut memiliki karakteristik tersendiri karena api tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga dapat membakar di bawah tanah,” ujar Nur Khamid.


Menurutnya, kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar. Karena itu, Polda Kalsel melakukan sejumlah uji coba metode baru untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus mengatasi keterbatasan sumber air di lokasi Karhutla.


Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah penggunaan kolam portable atau bioflok berkapasitas sekitar 12 ribu liter. Kolam tersebut ditempatkan secara berantai dengan jarak sekitar 200 hingga 250 meter menuju titik api, sehingga air dapat dialirkan secara estafet ke lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.


“Kolam portable ini kita gunakan untuk mendekatkan sumber air ke titik api. Jadi, ketika lokasi kebakaran cukup jauh dari sumber air, kita bisa membuat sistem estafet air dengan menempatkan kolam-kolam tersebut secara berantai,” jelasnya.


Selain itu, Polda Kalsel mengembangkan metode penyuntikan lahan gambut menggunakan pipa khusus. Air maupun cairan pemadam disalurkan langsung ke lapisan tanah untuk menjangkau titik api bawah permukaan atau ground fire yang sulit dipadamkan dengan cara konvensional.


Polda Kalsel juga memperkenalkan cairan pemadam berbasis surfaktan ramah lingkungan yang diformulasikan oleh Bidlabfor Polda Kalsel. Cairan tersebut dicampurkan dengan air dengan perbandingan sekitar 1:100 dan ditujukan untuk membantu meningkatkan efektivitas pembasahan lahan gambut serta mengurangi penguapan air.


“Cairan ini masih terus kita uji dan evaluasi. Dari hasil uji coba sementara, penggunaan cairan tersebut dapat membantu proses pembasahan dan menghemat penggunaan air. Namun, tentu seluruh hasilnya masih akan terus kita kaji secara ilmiah,” kata Nur Khamid.


Uji coba metode tersebut telah dilakukan di sejumlah lokasi rawan Karhutla, di antaranya kawasan Pengayuan dan Guntung Damar. Untuk mengetahui kondisi panas di bawah permukaan, petugas juga mengoptimalkan penggunaan drone thermal guna memetakan titik panas sekaligus memverifikasi hasil pemadaman.


Dari sisi efisiensi, Polda Kalsel menyebut biaya produksi cairan pemadam tersebut diperkirakan berada pada kisaran Rp14.800 hingga Rp18.000 per liter. Penggunaannya juga diharapkan dapat menghemat kebutuhan air hingga sekitar 50 persen dibandingkan metode pemadaman konvensional.


Saat ini, Polda Kalsel masih menunggu tambahan bahan baku yang didatangkan dari Surabaya dan Jakarta. Setelah bahan baku tersedia dan proses produksi dapat dilakukan lebih maksimal, metode tersebut akan diterapkan secara lebih luas dalam operasi penanganan Karhutla


Wilayah yang menjadi prioritas penanganan di antaranya Muara Layuh, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Barito Kuala. Polda Kalsel juga akan terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar penanganan Karhutla dapat dilakukan secara terpadu.


“Prinsipnya, kita tidak bisa bekerja sendiri. Penanganan Karhutla membutuhkan sinergi semua pihak, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, relawan, hingga masyarakat. Inovasi yang kita kembangkan ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pemadaman, khususnya di lahan gambut,” pungkas Nur Khamid.


Hasil uji coba inovasi tersebut selanjutnya akan dilaporkan kepada Kapolri dan Wakapolri. Polda Kalsel juga berencana membawa hasil pengembangan metode penanganan Karhutla tersebut dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) sebagai bagian dari upaya mendukung penanganan Karhutla di tingkat nasional.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Mata Borneo